Allah SWT memakai kata "waktu" sebagai awal sumpahnya, dalam surat al Asr, Allah bersumpah: "Demi Masa!". Ini membuktikan betapa
mulianya kedudukan "waktu" dalam siklus kehidupan universal.
"Lorong waktu", sebuah sistem yang masih misterius dan hingga kini
menjadi perdebatan di kalangan saintis. Kesimpulan mereka variatif dan semuanya
belum mutlak. Rasulullah SAW, dan para Rasul/Nabi dikisahkan dalam kitab Suci
pernah memasuki apa yang diistilahkan ilmuwan sebagai "lorong
waktu".
Waktu mungkin saja bisa membeku alias diam tak bergerak,
itu mungkin terjadi kelak saat kita sudah memasuki alam Akhirat! Surga dan Neraka
adalah keabadian yang dijanjikan-Nya! Kendati demikian, terjadinya fenomena
seperti peristiwa yang dialami oleh Kapten kapal Titanic, Smith dan
penumpangnya Wenny Kathe, dapat menjadi alasan (bukan pembuktian mutlak!) bahwa
ada sistem waktu yang terpisah dari sistem kefanaan dunia nyata kita. Tapi,
inipun hanya khusus untuk mereka yang mengalaminya dan berdampak langsung hanya
pada mereka.
Bagi manusia
awam, bila menemukan seseorang yang mengaku dari dunia masa silam, atau
seseorang dari masa depan tiba-tiba pernah mengalami keghaiban masa lalu,
maka kita akan menganggap orang itu sudah stress, mengalami depresi, sakit
jiwa, bahkan gila! Akan tetapi, seandainya kita mau berpikir bukan hanya dengan
logika ilmiah, namun dengan logika spiritual yang religius dan magis, niscaya
akan ditemukan jawaban misteri ketidak-normalan sebuah peristiwa.
Mustahil
Kembali ke Masa Lalu?
Pada tahun
1970 seorang penumpang jet 727, dikabarkan menghilang selama 10 menit dalam
penerbangannya ke Bandara Internasional Miami. Para penumpang tidak tahu apa
yang sedang terjadi. Tetapi akhirnya mereka percaya setelah melihat jam tangan
mereka, jam menunjukkan lebih lambat 10 menit. Para ahli menjelaskan ,"
ada periode "hilang", waktu "berhenti", atau dengan kata
lain, "waktu dapat menarik kembali ".
Cerita lain
menjelaskan, sebuah koin modern ditemukan di kuil kuno Mesir yang berusia 4000
tahun. Sebuah koin perak modern yang belum beredar, terkubur bersama di dasar
kuil dewa matahari. Saat itu sebuah tim arkeologi dari Perancis tiba di tepi
sungai Nil untuk melakukan penelitian ilmiah. Mereka menemukan reruntuhan dan
menggalinya. Tak disangka para arkeolog menemukan sebuah koin perak. Tapi
anehnya, itu bukan koin kuno orang Mesir tetapi koin orang Amerika. Dan semakin
aneh bahwa koin tersebut bukan dari Amerika kuno namun berasal dari Amerika
masa kini. Koin bernilai 25 sen dalam kondisi membatu dan belum pernah
dipublikasikan sama sekali. Sampai saat ini para ilmuwan masih bingung.
Bagaimana bisa koin itu ditemukan di kuil kuno Mesir?
Laporan
rahasia dari NATO pada tahun 1982 juga menceritakan perihal rahasia ruang dan
waktu. Dalam sebuah pelatihan terbang di Eropa Timur, pilot mereka melihat
ratusan dinosaurus di depan matanya. Tiba-tiba saja pilot tersebut tiba di
dataran Afrika prasejarah. Pilot juga mengalami hal yang sama ketika ruang dan
waktu membawanya kembali ke perang Jerman selama perang dunia II. Tetapi dalam
semenit kemudian ia kembali ke kenyataan. Benarkah?!
Jika teori
kembali ke masa lalu itu terjadi dalam sitem waktu di alam fana dalam sistem
waktu kita, tentu saja akan mustahil. Apa pun yang terjadi di alam semesta
berlangsung sesuai dengan hukum alam. Terjadi sedikit saja selisih waktu edar
sebuah benda angkasa, baik itu planet yang di galaxi Bima Sakti maupun yang
berada jauh sekali dari galaxi kita, pasti akan berpengaruh sangat besar
terhadap keutuhan dan kelangsungan universal. Dalam Kitab Suci dijelaskan,
bahwa setiap manusia di dunia fana ini, kelak kemudian hari, tatkala wujud
kasar kita sudah berubah menjadi wujud halus dalam bentuk ruh, akan dapat
melihat apa yang telah dilakukannya semasa berjaya di dunia. Tapi bukan kembali
ke masa lalu! Kita terus beranjak ke masa depan meskipun hanya
seper-sekian detik!!!
Kembali ke
masa lalu adalah hal yang paling mustahil untuk dilakukan. Sekalipun secara
teoritis, bukan sesuatu yang tidak mungkin sebagaimana Albert Einstein
mengatakan, “Waktu dan ruang dapat mengalami modifikasi. Ruang dapat
dipersingkat dan waktu dapat menjadi lebih lambat.” Menurut teori Einstein ini,
waktu dan ruang dapat mengalami perubahan dalam kecepatan cahaya. Jadi,
seandainya suatu benda terbang dengan kecepatan 300.000 km/detik, maka ruang
bisa diperpendek, dan waktu bisa diperlambat. Teori ini tak bisa dijadikan
landasan untuk memastikan bahwa kita bisa kembali ke masa lalu! Bayangkan,
berapa jarak antara masa lalu dengan masa sekarang...?! Usaha untuk mengejar
masa lalu tetap saja memerlukan waktu dan itu berarti kita sudah meninggalkan
masa lalu, kendati hanya seper-sekian detik!!!
Fenomena
alam yang memberikan pengalaman pada berberapa sosok tertentu untuk melihat
peristiwa di masa lalu, hanya dapat dilakukan setelah yang bersangkutan melalui
berbagai dimensi spiritual dan religius. Para Nabi dan Rasul, tidak begitu saja
-lahir-besar-dewasa- kemudian menjadi Nabi/Rasul Allah. Namun di antara masa
pendewasaan tersebut, sosok-sosok ini sudah terlebih dahulu digembleng -atau
katakanlah menggembleng diri sendiri- dengan kehidupan yang mengarah pada
pencerahan bathiniah. Sehingga pada level tertentu, mereka pun memiliki
kemampuan lebih dari manusia biasa.
Kesimpulannya,
seseorang dapat merasakan bahwa "waktu" yang dia miliki/rasakan bisa
saja tiba-tiba mandeg/diam/tak bergerak; atau seseorang bisa saja menyaksikan
gambaran peristiwa masa lalu, tapi dalam dimensi yang berbeda dengan kefanaan
kita. Akan tetapi, waktu tetap saja beranjak, dan kita tidak akan bisa kembali
ke masa lalu, apa lagi untuk merubah apa yang telah terjadi!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar